Nikah, Tujuan dan Manfaatnya


Salah satu teman di sosial media facebook menulis “kasus pemerkosaan berkelompok yg terjadi di New Delhi, India menunjukkan bahwa imajinasi seks laki-laki seringkali sangat liar, brutal dan tak manusiawi. Maraknya kasus-2 pemerkosaan dan pelecehan seksual merupakan imbas dari hasrat seks laki-2 yg sangat liar itu. Di tanah air, kita sering disuguhi berita ayah memperkosa anak kandungn, kakek memperkosa cucunya, remaja memperkosa tetangga sebelah dan seterusnya… Anehnya, di banyak kasus, perempuan sering menjadi pihak yg disalahkan karena berpakaian terlalu seksi, tetapi masyarakat jarang mau menyalahkan pihak laki-laki yg berpikir terlalu kotor”.

Ada beberapa comment dalam postingan facebook teman tersebut, yaitu:

  1. Pencarianmusuhbelum Cukupsampai Disini Itu alibi para pria mas yg ingin di tutupi kesalahan nya dg menyalahkan pihak prmpuan..
  2. Haris El-mahdi @david: hahaha….. laki-2 mau enaknya nggak mau susahnya:-)
  3. Amanu Mohamad klo menurut saya pikiran kotor laki-laki itu berasal dari penglihatanya kepada wanita yang berpakaian sexy…jadi sebenarnya laki-laki tidak salah, dan laki-laki memiliki nafsu yang memang tidak bisa disembunyikan apa lagi ketika melihat wanita yang sexy dan keindahan tubuhnya yang semlohai…hahaha. Apa mungkin ketika tahun2012 dan 2013ini sudah banyak wanita yang berpakain minim memperlihatkan keindahan tubuhnya pada setiap orang klo saya berkata dan boleh meramalkan mungkin tahun 2020 nanti wanitu sudah tidak mengenakan pakaian lagi ketika dia keluar rumah..hehehe
  4. Sinong Sinollah Yang paling benar itu, salurkan nafsu itu pada tempatnya. Yang belum nikah, nikahlah. Yang belum berani nikah, berpuasalah

Dari postingan teman dan beberapa komentar tersebut mengelitik saya untuk menuliskan kembali apa itu nikah, bagaimana hukumnya dan apa manfaatnya yang saya kutip dari berbagai sumber.

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” Muttafaq Alaihi

Nikah adalah suatu akad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan dalam rangka meneruskan keturunan dan mewujudkan kebahagiaan hidup keluarga, yang diliputi rasa ketenteraman serta kasih sayang dengan cara yang diridloi Allah.

Meskipun pada dasarnya Islam menganjurkan menikah, apabila ditinjau dari keadaan yang melaksanakannya, pernikahan dapat dikenai hukum wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.

  1. Pernikahan yang Wajib, apabila orang yang mempunyai keinginan kuat untuk menikah dan telah mempunyai kemampuan secara materil (keuangan) dalam melaksanakan dan memikul beban kewajiban dalam hidup setelah menikah, serta ada kekhawatiran, apabila tidak menikah, ia akan mudah tergelincir untuk berbuat zina.
  2. Pernikahan yang Sunnah, apabila orang yang mempunyai keinginan kuat untuk menikah dan telah mempunyai kemampuan secara materil (keuangan) dalam melaksanakan dan memikul beban kewajiban setelah menikah, tetapi apabila tidak menikah, tidak ada kekhawatiran akan berbuat zina.
  3. 3. Pernikahan yang Haram, apabila orang belum berkeinginan serta tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul beban kewajiban-kewajiban dalam hidup setelah menikah, sehingga apabila menikah akan berakibat menyusahkan isterinya.
  4. Pernikahan yang Makruh, apabila seorang yang mampu dalam segi materil, cukup mempunyai daya tahan mental dan agama hingga tidak khawatir akan terseret dalam perbuatan zina, tetapi mempunyai kekhawatiran tidak dapat memenuhi kewajiban- kewajiban terhadap isterinya, meskipun tidak akan menyusahakan pihak isteri; misalnya, calon isteri tergolong orang kaya atau calon suami belum mempunyai keinginan untuk menikah.
  5. Pernikahan yang Mubah, apabila seorang yang sudah mempunyai harta, tetapi apabila menikah tidak merasa khawatir akan berbuat zina dan apabila menikahkan pun tidak merasa khawatir akan menyia-nyiakan kewajibannya terhadap isteri.

Tujuan Menikah

  1. Mendapatkan dan melangsungkan keturunan.
  2. Memenuhi hasrat manusia untuk menyalurkan syahwatnya dan menumpahkan kasih sayangnya.
  3. Memenuhi panggilan agama (ibadah), memelihara diri dari kejahatan dan kerusakan (maksiat).
  4. Menumbuhkan kesungguhan untuk bertanggung jawab menerima hak serta kewajiban, juga bersungguhAbdul sungguh untuk mencari dan memperoleh harta kekayaan yang halal.
  5. Membangun rumah tangga untuk mendapatkan kehidupan yang tenteram atas dasar kasih sayang (sakinah mawaddah wa rahmah).

Manfaat menikah

  1. Menyambung silaturahmi.
  2. Memalingkan pandangan yang liar.
  3. Menghindari diri dari perzinaan.
  4. Memperoleh keturunan (generasi hidup).
  5. Mengisi dan menyemarakkan Dunia
Advertisements
Gallery | This entry was posted in Mencoba Menata Hati. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s