Belajar Legowo


Suatu ketika terlihat seorang pemuda kampung sibuk mencari-cari sesuatu di halaman rumahnya. Lama ia mencari hingga keringat bercucuran membasahi wajah dan bajunya. Para tetangga yang melihat hal itu pun tersentuh untuk membantu. Mereka pun berbaur dengan sang pemuda mencari sesuatu yang kelihatannya hilang di halaman itu. Lama mencari, ternyata tidak ketemu juga apa yang dicari. Penasaran dengan kondisi itu, seorang tetangga pun bertanya, ‘sebenarnya, jarum itu tadi jatuh dimana?’ dengan tenang pemuda itu menjawab, ‘di dalam rumah!’. Sontak para tetangga pun jengkel dan berkata, ‘kalau hilang di dalam rumah, mengapa mencari di luar rumah (halaman)?.’ Masih dengan ekspresi yang tenang tanpa dosa, sang pemuda menjawab, ‘karena di dalam rumah gelap!’
Faktor Eksternal

Ilustrasi di atas menggambarkan betapa manusia selama ini mencari-cari sesuatu di luar dirinya yang sesungguhnya hilang dalam dirinya sehingga membuat ia tidak bahagia. Ia cenderung menyalahkan orang lain atau pihak luar atas ketidakbahagiaannya. Ketika sebuah masalah timbul, jari telunjuk penuh vonis pun diarahkan kepada pihak lain yang dituding sebagai orang yang telah menciptakan kesengsaraan hidupnya. Pihak lain selalu dijadikan sebagai kambing hitam yang sejatinya tidak mengetahui apa-apa atas kejadian yang menimpa dirinya. Orang macam ini lupa bahwa dirinya juga pasti berkontribusi atas ketidakbahagiaan yang terjadi padanya. Ada sesuatu di dalam diri yang harus ‘dituding’ terlebih dahulu sebelum menuding yang lain. Namun sayang kebanyakan orang lupa atau pura-pura lupa akan realitas ini hingga ia selalu ‘mencari jarum yang hilang di dalam rumah di luar rumahnya.’

Faktor Internal

Jika setiap orang mau belajar mencari sebab musabab ke dalam dirinya sendiri. Berkomunikasi dengan batinnya sendiri, penjatuhan vonis tentu tidak akan dialamatkan kepada pihak lain. Karena sumber penderitaan itu sejatinya ada di dalam diri sendiri. Salah satu karakter internal yang harus dikedepankan atas sebuah kejadian itu bernama: legowo. Jika setiap orang mau memahami dan menginternalisasikan karakter ini, pencucian batin pasti langsung berproses secara alami di dalam. Apa pun yang terjadi akan dapat disikapi dengan bijak dan bijaksana sehingga tidak menimbulkan huru-hara penghakiman terhadap siapa saja yang berada di luar dirinya. Coba lihat kasus Nurdin Halid. Betapa ia kekeh dan kokoh mempertahankan jabatan ketua umum PSSI pada masanya tanpa merasa dirinya yang berlaku salah. Seolah setiap orang yang membicarakan dirinya berniat mencabut kebahagiaannya dari kursi orang nomor satu di persatuan sepak bola itu. Segala upaya pun di lakukan yang rata-rata mencari ‘jarum’ di luar rumahnya. Ia menjadi tidak bahagia karena serangan publik yang datang bertubi-tubi setiap hari. Akhirnya, sejarah mencatat lain, jarum itu ada dalam dirinya hanya perlu ditemukan dengan satu instrumen mental yang bernama legowo.

Lain Nurdin Halid, lain pula yang terjadi di Libya. Presiden Muammar al-Qaddafi sampai hari ini belum menyatakan resmi mengundurkan diri dari kursi kepresidenannya walau di-demo kiri kanan oleh rakyatnya sendiri. Peringatan PBB, Amerika dan banyak negara tidak satu pun yang dipertimbangkannya untuk turun dari tampuk kekuasaannya yang telah dicengkeram lebih dari 42 tahun! Dalam kondisi seperti ini dapat dijamin bahwa sang diktator itu pasti tidak bahagia. Hidupnya resah dan gelisah karena setiap hari menyaksikan betapa banyak rakyatnya sendiri yang mati bersimbah darah karena peluru-peluru tak berperikemanusiaan yang dimuncratkan atas perintahnya. Ia pastinya tidak akan bisa memejamkan mata walau sekejab. Pagi, siang, sore dan malam selalu terjaga. Hidup macam apa ini? Jarum itu ada di dalam diri, ia tidak seharusnya mencarinya di luar diri. Jika ia mau legowo, turun dari tahta, kebahagiaan rasanya masih bisa dinikmati di sisa-sisa usianya yang memang sudah menantinya untuk rehat dari hiruk-pikuk panggung politik. Kita tunggu saja, apakah ia akan berbesar jiwa untuk melakukan itu dan menemukan jarum di dalam dirinya.

Legowo = Bahagia

Orang-orang yang telah mempraktikkan kelegowoan sudah banyak kita temui di dunia ini. Mereka bisa menjadi contoh empiris bahwa legowo itu identik dengan kebahagiaan. Lihat saja kehidupan Lee Kwan Yew, Menteri Senior Singapura (pendiri & PM Singapura awal) yang begitu dihormati sampai saat ini. Ia turun pada saat Singapura dalam masa kejayaan yang luar biasa. Ia legowo dengan apa yang dilakukannya. Di Malaysia ada Dr. Mahathir Mohamad yang juga melakukan hal serupa. Dengan legowo dan ksatria ia turun dari kursi PM Malaysia pada masa negerinya berjaya. Tidak ada yang disesali. Tidak ada pula yang ditangisi. Semuanya berjalan dengan tenang dan damai. Kedua mantan perdana menteri itu kini hidup bahagia menikmati hari tua. Jika diteruskan tentu masih banyak lagi deretan daftar orang-orang semacam ini yang telah berhasil mempraktikkan jiwa legowo. Karenanya, jika ingin bahagia, mari belajar legowo. Tidak ada gunanya menggenggam sesuatu secara erat dan berat untuk dilepas. Semakin erat genggaman itu, semakin besar pula potensi derita. Mari legowo!***

disunting dari: http://www.analisadaily.com/news/read/2011/07/30/6143/l_eg_o_w_o/

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Belajar Legowo

  1. Pingback: Mencoba Menata Hati | Sinollahblog

  2. wid says:

    legowo, mudah diucapkan, untuk diimplementasikan ….. wow perlu pengorbanan hati, mulai hari hari ini marilah menata hati… dan legowo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s